BREAKING NEWS

Sabtu, 20 Oktober 2012

ASTEKI dari Asosiasi Televisi Kerakyatan Indonesia menjadi Asosiasi Televisi dan Media Kerakyatan

Merespon perubahan dunia media, tak hanya membutuhkan keahlian membaca situasinya saja. Perubahannya yang sangat cepat, harus disikapi dengan respon dan gerakan taktis dan aksi cepat cepat pula. Asosiasi Televisi Kerakyatan (ASTEKI) pada 26 September sampai 3 Oktober 2012 meresponnya dengan menggelar Musyawarah Besar (MUBES) II di Bengkulu. Sekaligus menggelar workshop produksi bersama dan Seminar.

Mubes ASTEKI II di Bengkulu menghasilkan rumusan strategis dan kepengurusan ASTEKI yang baru untuk periode 3 tahun mendatang. Rumusan strategis ini memandatkan perubahan nama ASTEKI dari Asosiasi Televisi Kerakyatan Indonesia menjadi Asosiasi Televisi dan Media Kerakyatan. Ditambahkannya kata “media” disini menegaskan bahwa ASTEKI kedepan siap menyongsong konvergensi media yang bergerak dalam multiplatform elektronik sebagai langkah antisipasi perubahan yang terjadi di luar.

Mandat tersebut kemudian akan dikawal sang ketua baru Silverius Oscar Unggul (Kendari TV) dan wakilnya Een Irawan Putra (Gekko Studio). Duet ini secara khusus akan meneruskan kepemimpinan ASTEKI dari Ridzki R Sigit dan Muchlis L Usman di kancah lokal, nasional dan global. Termasuk membangun konsep “peoples centered media”sebagai fondasi ASTEKI dalam membangun media kerakyatan melalu jurnalisme warga, menyiapkan kerjasama dengan para pihak agar tagline ASTEKI “suara yang tidak tersuarakan” dapat dilakukan secara multiplatform, dan memberikan layanan yang lebih baik kepada anggota dalam bidang informasi, peluang dan perbaikan manajemen.

Mubes ASTEKI II diikuti anggota jaringan yang terdiri dari 6 jaringan televisi lokal (Bengkulu TV, Ruai TV, Palu TV, Kendari TV, Buton Raya TV dan Tifa TV) dan satu content provider yaitu Gekko Studio. Juga jaringan media kerakyatan yang terdiri dari kantor berita (Gurindam12.co, Kotahujan.com, kotagambut.com dan Publikrakatau.com) dan radio (suramentawai FM dan Bimantara FM). Hadir juga mitra jaringan yang ikut memantau jalannya Mubes, seperti Perkumpulan Telapak, Yayasan Ulayat, Engagemedia dan Sekjen AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara).

Sebelumnya, sejak 26 September perwakilan anggota dan jaringan ASTEKI sudah tiba lebih dulu untuk mengikuti workshop produksi bersama. Kegiatan ini merupakan upaya peningkatan kapasitas anggota untuk membuat liputan reportase berita sekaligus memperkuat kualitas reportase terhadap isu/ permasalahan yang berdampak langsung kepada masyarakat. Workshop didesain dalam bentuk program Pelatihan dan Pembuatan Pembuatan Produk Audio Visual Televisi yang bertema: Inisiatif Media Kerakyatan di Provinsi Bengkulu.

Dipilihnya Bengkulu sebagai lokasi kegiatan, selain adanya anggota jaringan ASTEKI ( Bengkulu TV) juga berupaya mengenal lebih dalam isu-isu dan permasalahan di wilayah propinsi Bengkulu. Untuk kegiatan kali ini, ASTEKI memfokuskan untuk mengangkat tema yang berhubungan dengan relasi antara masyarakat dengan lingkungan yang saat ini sedang terdegradasi berat akibat maraknya praktek konversi lahan hutan, kerusakan hutan dan pencemaran sungai dan DAS yang bermuara kepada kemiskinan masyarakat dan proses alienasi masyarakat kepada sumberdaya alamnya. Dan adanya praktek inisiatif masyarakat secara partisipatif mengelola lingkungan disekitar mereka.

Asosiasi Televisi Kerakyatan Indonesia (ASTEKI) dideklarasikan sejak bulan Agustus 2008 di Kendari. Hingga saat ini jaringan ini sedang berupaya untuk membangun citra media lokal yang berorientasi kepada pemenuhan publik kepada informasi yang lebih membumi dan memberikan ruang bagi kebutuhan silence public untuk bersuara (voicing the voiceless) melalui jejaring televisi yang berbasiskan kepada prinsip keragaman kepemilikan (diversity of ownership) dan keragaman isi program (diversity of content).

Share this:

Posting Komentar

 
Back To Top
Distributed By www.surafm.com | Designed By OddThemes