BREAKING NEWS

Kamis, 16 Agustus 2012

Okveria Walter Putri: Memperjuangkan Hak Perempuan Lewat Radio

Oleh: Saherman (Resource Center – Komnas Perempuan)
Senyum manis merekah dari wajah perempuan bertubuh kecil dan berkerudung itu ketika saya menemuinya di sela-sela mengikuti sarasehan mengenai Perkebunan Besar dan Hak-Hak Masyarakat Adat pada Kongres AMAN ke-4 di Tobelo, Halmahera Utara, 21 April lalu. “Maaf bang, saya baru baca sms kalau abang sudah tiba di depan,” katanya. Ia berjalan keluar menemui saya di depan salah satu gedung di kampus Politeknik Perdamaian Halmahera.

Okveria Walter Putri namanya. Ia seorang penyiar radio di kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Namanya terkesan kebarat-baratan. Saya teringat nama-nama teman saya yang berasal dari Sumatera Barat yang biasanya memang terasa “barat”. Alfred, Chaniago, atau Edward. Mereka semua orang Minang, suku terbesar di propinsi ini. Tapi Okveria Walter Putri adalah perempuan asli dari Mentawai. Ia bukan keturunan Minang. Perempuan 27 tahun dan sudah dikaruniai dua orang anak ini biasa disapa Puput. Profesinya sebagai penyiar radio membuat Puput dikenal banyak orang di Mentawai. Banyak orang yang senang bertemu dengannya kalau sedang memasuki perkampungan. “Oh ini ya penyiar radio itu…” kata orang-orang kalau bertemu dengannya.

Baru setahun ini Puput bekerja di radio Sura’ FM. Radio milik Yayasan Citra Mandiri ini juga baru setahun terkahir beroperasi. Puput generasi awal para penyiarnya. Bersama dengan 4 orang lainnya ia adalah staf dan penyiar sekaligus di situ. Semantara ini, Puput biasa mengudara setiap pukul 10 pagi hingga tengah hari. Jadwal siaran selalu berubah setiap bulan. Dalam siarannya, Puput biasa menyisipkan pesan-pesan ‘kritis’ kepada para pendengarnya. Isu perempuan ia masukkan secara pelan-pelan untuk menyadarkan masyarakat bahwa hal itu harus diperhatikan. Pernah juga ia mengkritik kebijakan pemerintah daerah setempat dalam celetukannya saat siaran. Untuk itu, ia harus menerima teguran dari salah pendengarnya. “Saya dinilai menggunakan kata-kata yang tidak pas, dicap anti pemerintah.”

Puput yang hanya menamatkan pendidikannya setingkata SLTA sebenarnya tak mengenal betul isu kekerasan terhadap perempuan atau hak asasi perempuan. Tetapi ia ingin sekali mendisikusikan isu perempuan kepada para pendengarnya. “Kami mendorong peran perempuan di sektor publik,” katanya.
Pernah dalam siaranya Puput mengangkat isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Ia mendapatkan informasi tentang isu ini lebih banyak dari media massa. Untuk tidak menyindir secara langsung masyarakat Mentawai, contoh-contoh kasus ia ambilkan dari daerah-daerah lain, bukan dari daerahnya sendiri. Namun demikian keprihatinannya tetap besar terhadap kasus-kasus KDRT di lingkugannya sendiri. Ia sedih sekali karena banyak perempuan dan anak di sekitar lingkungannya yang menjadi korban KDRT.

Waktu siaran, ada banyak yang menelpon. Ada tanya jawab. Acaranya memang dibuat interaktif. Meski tak bisa menyebutkan angka statistik jumlah pendengarnya, ketika ia berkunjung ke beberapa pelosok di Mentawai, ada banyak orang yang mengatakan menyukai siarannya. Mereka menyesali tak dapat menelepon untuk berinteraksi di radio sebab sinyal telpon seluler kurang bagus. Sinyal merupakan kendala komunikasi yang masih dirasakan oleh penduduk di Kepulauan Mentawai. “Kalau sinyalnya bagus, kemungkinan akan lebih banyak yang menelpon dan akan lebih seru diskusinya”.

Posisi Puput sebagai penyiar radio sangat strategis. Jika kita bandingkan dengan lembaga-lembaga berbasis massa seperti partai politik atau lembaga keagamaan seperti Nahdlatul Ulama, seorang penyiar radio sesungguhnya memiliki massa sendiri. Kita bisa melihat bagaiman orang seperti Nuim Khaiyath, orang Medan yang bekerja sebagai wartawan Senior di radio ABC Australia, memiliki penggemar yang luar biasa di tanah air. Kalau di dunia televisi saat ini, mungkin Najwa Shihab jadi perbandingan untuk konteks Indonesia. Dengan posisinya itu, sesungguhnya Puput potensial memiliki pengaruh yang besar di kalangan masyarakat Mentawai. Pendidikan publik seperti keadilan gender, hak-hak reproduksi, atau isu sosial lainnya bisa berjalan dengan baik melalui media radio ini. Puput memiliki pendengar setia!
Ada satu fenomena umum di Mentawai yang mengusik Puput. Pada siang hari, di kampung-kampung itu lebih banyak laki-lakinya. Kaum perempuan, ibu-ibu, berada di ladang. Laki-laki hanya main atau memancing, sementara perempuan lebih banyak bekerja. Padahal untuk membeli beras di warung saja, uangnya bersumber dari hasil ladang. Puput merasa ada ketimpangan dalam hal ini. Perempuan lebih banyak di kebun, sementara laki-laki lebih banyak di kampung. Bisa dikatakan kalau perempuanlah yang mencari nafkah keluarganya. Nanti pekerjaan rumah akan kembali dikerjakan oleh perempuan-perempuan sekembali mereka dari ladang. “Ini tidak adil!” seru Puput penuh gugatan.

Puput melihat perempuan-perempua Mentawai masih belum berani untuk mengemukakan pendapat tentang banyak hal. Mereka kurang percaya diri untuk tampil di muka umum untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi mereka. Mungkin karena sudah dari nenek moyang dulu, sudah jadi budaya, perempuan tidak diikutsertakan dalam banyak hal. Akhirnya ini terjadi sampai sekarang suara perempuan tidak terdengar.Puput menambahkan lagi, “Faktor lain, mungkin karena pendidikan perempuan-perempuan di sini masih rendah.” Karena itu pula Puput merasa harus aktif di udara untuk mengajak kaum perempuan supaya mau membangun kepercayaan diri. Banyak hal menyangkut kehidupan perempuan harus diputuskan oleh perempuan itu sendiri. Karena itulah mereka harus bicara. “Dari sisi adat, kami belajar supaya perempuan terlibat dalam pengambilan keputusan, dari pendidikan perempuan harus mendapatkan pendidikan yang tinggi, dalam pelayanan seperti kesehatan perempuan mau tampil di posyandu, jadi guru, dan sebagainya.”
Radio Sura’ FM berjaringan dengan Kantor Berita Radio 68H (KBR 68H) di Jakarta. Siaran berita pada pukul 6 pagi dan 4 sore dari radio tersebut disambungsiarkan oleh radio di Mentawai ini. Puput merasakan banyak informasi penting yang ia dapatkan dari KBR 68H.

Ketertarikannya pada isu perempuan membuat Puput ingin sekali berjejaring dengan para aktivis yang bergerak dalam isu ini. Ia ingin membangun relasi dengan LSM-LSM perempuan. Mengetahui kalau Komnas Perempuan memiliki banyak mitra di seluruh Indonesia, Puput ingin sekali supaya disertakan sebagai mitra Komnas Perempuan. Kalau Komnas Perempuan atau mitranya melakukan pertemuan, ia ingin supaya ia dapat dilibatkan. Ia pun berharap Komnas Perempuan bersedia mengiriminya bahan-bahan referensi atau publikasi mengenai isu perempuan.

Ketika ditanya apa yang ia butuhkan untuk meningkatkan kapasitasnya sebagai seorang penyiar radio yang peduli pada isu perempuan, ia hanya ingin mendapatkan pelatihan jurnalisme dan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuannya pada isu hak asasi perempuan. “Saya mau berjuang di isu perempuan, tetapi mungkin masih melalui udara karena saya masih cinta pada radio,” kata Puput.

Semua orang punya cara untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Dan Puput merasa menjadi penyiar radio adalah caranya untuk berjuang.

Share this:

Posting Komentar

 
Back To Top
Distributed By www.surafm.com | Designed By OddThemes