BREAKING NEWS

Minggu, 19 Agustus 2012

Maaf Yang Sejati

Di hari lebaran ini,Kita kembali merajut silaturahmi. Dengan datang ke kampung, bertemu kedua orang tua dan saudara-saudara. Walaupun harus menempuh lelah fisik, kantong kering dan badai, tetap dilakoni. Betapa besar semangat para mudikers untuk berlebaran di kampung.

Di hari lebaran ini, kita saling memaafkan. Memberi dan memohon maaf. Alangkah mulia dan indahnya hari ini. Bertebarannya senyum dan jabat tangan, begitu juga ketupat yang masuk ke kerongkongan kita. Lebaran menjadi hari istimewa, hari untuk saling memaafkan.

Tapi, apakah cukup hanya memohon maaf di hari ini? Ucapan maaf yang sering kita lontarkan adalah “Mohon maaf lahir dan batin”. Ucapan ini bukan hanya sekadar ucapan maaf belaka, ada makna tersurat di dalamnya. Dengan mengucapkan ungkapan tersebut, kita berusaha saling memaafkan untuk sesuatu yang lahiriah dan batiniah.

Memaafkan secara lahiriah, bisa dilihat dari mimik muka, ucapan dan bahasa tubuh. Tetapi tidak ada yang bisa menerka di dalam hati masing-masing, apa yang dirasakan. Memaafkan secara batiniah jauh lebih sulit dan dalam.

Di sinilah kebijaksanaan kita diuji, apakah sekadar mengucapkan ungkapan permohonan maaf, memaafkan sesuatu yang lahiriah saja, atau memaafkan setulus hati dengan batin kita. Memaafkan yang paling dalam adalah dengan batin, yang tidak bisa dilihat, didengar dan dirasakan oranng lain. kita sendiri yang menentukan apakah kita menjadi pemaaf atau tidak.

Begitu juga dengan hari. Hari ini ucapan maaf begitu mudah kita ucapkan. Apakah hanya hari ini? Permohonan maaf sejatinya harus kita ucapkan setiap hari, kepada orang-orang di sekitar kita. Karena tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah. Jadi, memohon maaf, selain hari ini juga harus dilakukan di hari-hari lainnya.

Ketika kita meminta maaf, hal yang penting adalah berusaha tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi. Misalnya kita mohon maaf karena berkata kasar, permohonan maaf itu akan terasa hambar jika kita tidak berusaha “mengerem” mulut kita untuk berkata kasar. Jadi, bukan hanya ungkapan maaf belaka, tapi juga berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Setiap kita di hari ini belajar menjadi pemberi maaf. Selain memohon, kita juga memberi maaf tulus kepada saudara dan kerabat. Memberi maaf seringkali menjadi hal yang sulit dilakukan, lebih mudah memohon maaf daripada memberi maaf. Di hari ini, kita belajar menjadi pemberi maaf yang tulus, tidak sekadar memberi tapi juga memohon.

Ada banyak pelajaran yang kita petik hari ini. Belajar mengakui kesalahan, belajar memohon maaf, belajar memberi maaf, belajar menjadi pemaaf. Namun, hal terpenting adalah berusaha tidak mengulangi kembali kesalahan, agar permohonan maaf kita tidak menjadi sekadar formalitas belaka. Menjadi permohonan yang membuat kita menjadi insan yang lebih baik lagi.

Share this:

Posting Komentar

 
Back To Top
Distributed By www.surafm.com | Designed By OddThemes