BREAKING NEWS

Kamis, 26 Juli 2012

Swasembada Kedelai hanya Mimpi Seiring Harga Naik

Polemik naiknya harga bahan baku kedelai telah membuat pengrajin tempe dan tahu melakukan aksi mogok produksi selama 3 hari. Kenyataan ini tentu menambah panjang tingkat ketergantungan bahan baku pangan kepada pasar. Tempe dan tahu sudah dianggap sebagai pangan lokal asli Indonesia, namun siapa sangka yang kita kenal sebagai pangan lokal itu, dilihat dari sumber bahan bakunya merupakan pangan internasional. Lebih dari 60 persen bahan bakunya dari negara lain semisal Amerika, Kanada, Cina, Ukraina dan Malaysia.

Fakta ini tentu menyedihkan untuk ukuran negara agraris, impor bahan baku dilakukan karena tingginya permintaan produk turunan kedelai. Tidak kurang dari 2,4 ton kedelai dikonsumsi masyarakat, pada kenyataannya tidak bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Masalah menjadi serius karena besarnya tingkat ketergantungan ini. Perubahan produksi yang terjadi di negara-negara eksportir pun langsung berdampak pada kenaikan harga kedelai di dunia, seperti kegagalan panen di negera-negara eksportir pada tahun 2007-2008 atau kekeringan di Amerika Serikat pada bulan ini.

Dampak langsungnya seperti yang terjadi saat ini, harga yang melambung membuat ongkos produksi meningkat. Pengusaha tahu, tempe dan kecap merugi luar biasa. Pilihan mogok produksi kemudian menjadi pilihan walaupun konsumen turut menjadi korban, dirugikan.

Peristiwa ini menurut Officer Advokasi dan jaringan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, seharusnya dijadikan momentum oleh pemerintah untuk melakukan proteksi pada para produsen kedelai lokal, terkait dalam persaingannya dengan produsen luar.

“Selama ini, para produsen kedelai lokal berpindah haluan karena mereka tidak bisa menyaingi harga kedelai import,” ungkapnya.

Sejak 1990 sampai 2011 lalu, laju impor terus meningkat. Pada tahun 1990 impor kedelai hanya 541 ribu ton maka pada tahun 2011 mencapai 1,5 juta ton dengan nilai mencapai 5,9 triliun (Data BPS). Kondisi ini berbanding terbalik dengan produksi dalam negeri terus mengalami penurunan. Jika pada tahun 1990 produksi mencapai 1.4 juta ton maka pada tahun 2011 turun menjadi 851 ribu ton.

Pemerintah sendiri pada 2014 berencana melakukan swasembada tanaman pangan strategis, salah satunya kedelai. Hingga tahun 2014 diproyeksikan produksi kedelai dalam negeri mencapai 2,7 juta ton dengan laju peningkatan produksi mencapai 1.5 ton/ha dari sebelumnya yang hanya 1.3 ton/ha. Ditargetkan pada tahun 2014 terdapat surplus 137 ribu ton, sehingga impor diasumsikan tidak lagi diperlukan.

Namun dalam kenyataannya produksi tahun lalu hanya 851 ribu ton atau defisit produksi hingga 1,9 juta ton untuk mencapai 2.7 juta ton. Artinya dengan sisa waktu kurang dari tiga tahun produksi per tahunnya harus meningkat rata-rata 1.4 juta ton. Selama ini produksi kedelai ditumpukan pada lahan sawah yang digunakan pada saat jeda musim tanam padi.

“Pemerintah harus menata ulang area atau lahan produksi kedelai. Dengan memperluas area produksi, maka kemungkinan produksi pun semakin besar,”

Lahan sawah sendiri saat ini terus mengalami penyusutan akibat alih fungsi lahan yang massive. BPS merilis setiap tahun rata-rata konversi sawah mencapai 110 ribu ha. Pada hal laju pencetakan sawah baru tidak lebih dari setengahnya setiap tahunnya. Hilangnya sawah berarti hilang pula lahan untuk tanaman kedelai. Untuk memproduksi kedelai dengan capaian 2.7 ton setidaknya diperlukan lahan mencapai 1.7 juta ha.

Harapan kebutuhan padi, jagung dan kedelai dapat dipenuhi produksi dalam negeri pada 2014 realisasinya perlu dipertanyakan, mengingat lahan yang digunakan adalah sama. Peningkatan produksi jagung, secara otomatis menurunkan produksi kedelai. Hal ini dapat dilihat dari data BPS, berdasar angka ramalan I tahun 2012, produksi jagung meningkat dari 17 juta ton padat tahun 2011 menjadi 18 juta ton tahun 2012. Sementara produksi kedelai mengalami penurunan, dari tahun 907 ribu ton tahun 2010 menjadi 851 ribu ton tahun 2011 dan diprediksikan 310 ribu ton.
“Persoalan yang ada di masyarakat kita saat ini adalah, mereka cenderung menggunakan lahan sawahnya (setelah panen) untuk ditanami jagung atau tanaman lain yang harganya dianggap lebih tinggi dari kedelai,” beber Said.

Selain lahan, penurunan jumlah petani yang membudidayakan kedelai juga menjadi persoalan. Banyak petani yang beralih ke kacang hijau, alasannya karena tata niaga kacang hijau jauh lebih mudah dan menguntungkan. Sedangkan harga kedelai dalam negeri terus mengalami tekanan oleh kedelai impor. Selama tahun 2011, bea masuk impor kedelai 0%. Situasi ini tentu saja memukul produk domestik yang berujung pada penurunan gairah para petani untuk menanam kedelai.
Menjadi naïf tentunya ketika swasembada didorong sementara keran impor dibuka lebar. Ironisnya dukungan dalam bentuk insentif harga dan input sedikit sekali dilakukan.

sumber : kotahujan.com

Share this:

Posting Komentar

 
Back To Top
Distributed By www.surafm.com | Designed By OddThemes