BREAKING NEWS

Kamis, 19 Juli 2012

SurfAid siapkan masyarakat sadar bencana

Mentawai merupakan kabupaten yang rawan terhadap gempa dan tsunami sehingga sejak dini masyarakat harus dipersiapkan untuk tanggap terhadap bencana yang datang. Mulai dari menyiapkan masyarakatnya untuk sesegera mungkin menyelamatkan diri saat gempa terjadi menuju arah yang lebih tinggi, menyiapkan jalur evakuasi yang cukup dan dan mudah dijangkau serta mempersiapkan lokasi pengungsian yang aman sekaligus siap dengan bahan makanan selama dipengungsian.

Melihat potensi-potensi bencana yang ada ini membuat beberapa lembaga yang peduli terhadap Mentawai membangun kedasaran masyarakat tersebut dengan membangun kordinasi bagi pemerintah dan masyarakat agar siap terhadap bencana yang seakan mengintai. Salah satu lembaga yang mulai membangun jaringan kepada masyarakat dan pemerintah setempat yaitu Surfaid Internasional.

“Masyarakat harus dipersiapkan secara dini untuk tanggap terhadap bencana yang datang. Mulai dari tingkat anak-anak hingga orang tua,” kata Ima Purba dari Surfaid pada Puailiggoubat.

Lebih lanjut dikatakan Ima, dalam menghadapi bencana seperti gempa dan tsunami masyarakat tidak boleh pasrah. “Tapi masyarakat harus siap. Tentunya dengan tanggap dari segala sesuatunya. Soal kekuatan gempa sekarang ini bukan menjadi patokan namun harus segera mungkin mengungsi ketika gempa terjadi,” katanya.

Untuk di Kecamatan Siberut Utara, tim SurfAid telah memulai melakukan kordinasi tingkat kecamatan dan desa serta dusun yang menjadi sasaran kegiatan. “Untuk di Kecamatan Siberut Utara sasaran pertama kita yaitu Desa Sikabaluan yang meliputi Dusun Muara, Nang-nang, Pokai, Puran, Bose,” jelasnya. “Penentuan daerah ini belumnya ada tim investigasi yang turun dengan melihat topografi, jumlah penduduk serta hal lainnya,” tambahnya.

Lebih lanjut, dikatakan Ima pihak pemerintah dalam membuat program kegiatan terkait dengan penanggulangan bencana kerap mengabaikan pemulihan kondisi masyarakat pasca bencana. “Pemerintah kadang hanya focus pada pemulihan secara fisik, namun dari mental korban tidak diperhatikan. Ini yang coba kita lihat,” katanya.

Dari peninjauan tim yang turun dilapangan untuk melihat kondisi masing-masing dusun yang menjadi daerah dampingan mengatakan bahwa masyarakat masih dekat dengan bencana. “Seperti halnya di Dusun Puran lokasi perkampungannya yang dikatakan sudah jauh dari tepi pantai sebenarnya masih dekat. Terlihat jauh hanya karena pembangunan jalannya yang berbelok-belok. Idealnya untuk jarak lokasi pengungsian yaitu 4-6 KM dari garis pantai,” kata Budi Adrian.

Share this:

Posting Komentar

 
Back To Top
Distributed By www.surafm.com | Designed By OddThemes