BREAKING NEWS

Sabtu, 01 Januari 2011

Lelaki Penantang Badai


Senin, 25 Oktober
MALAM belum larut. Sekira seperempat jam menjelang pukul 10. Warga Tuapejat, Kepulauan Sipora,�Kabupaten Mentawai, masih bercengkerama. Ada pula yang asyik menikmati tayangan sinetron. Mendadak gempa mengguncang, 7,2 skala Richter. Alam gemeretak serasa diaduk. "Semua orang berhamburan keluar rumah," kata Kortanius Sabealake.
Kortanius saat itu sedang mempersiapkan siaran uji coba radio FM milik yayasan yang dia ketuai: Yayasan� Citra Mandiri. Awalnya Korta, panggilan akrabnya, yakin gempa kali ini tidak diikuti tsunami. "Goyangan gempa malam itu tak sebesar pada 2007, yang mencapai 8,4 skala Richter," begitu Korta menenangkan diri.
Rasa tenang tidak bertahan lama. Terlintas di pikirannya nasib penduduk yang tinggal di�pesisir Pagai Utara dan Pagai Selatan. "Saya berusaha menelepon orang-orang di sana, tapi tidak bisa. Jaringan telepon seluler mati," katanya.

l l l

Selasa, 26 Oktober
Dinihari, pukul 03.00. Gempa yang lebih besar datang. Hati Ketua DPRD Mentawai periode 2004-2009 dari Partai Persatuan Daerah ini semakin tidak tenang. Dia kian mengkhawatirkan warga Pagai yang tepat berada di bibir pantai barat. Subuh itu dia langsung mengeluarkan Laggaita (kampung kita), speedboat miliknya dari gudang. Korta tak sabar ingin segera menyeberangi laut, menuju Pagai.
Apa daya, Laggaita tak mau menyala. Mesinnya mati. "Saya memutuskan meminjam mesin orang lain," katanya. Mesin pinjaman pun didapat.
Tepat pukul 14.00, Korta ditemani Ferdinand Salamanang, rekannya, memacu Laggaita menuju ke Pagai. Cuaca ekstrem. Badai dan gelombang laut yang menjulang sampai empat meter kerap menghantam. Korta pantang surut. Membelah ombak, Laggaita dipacu dengan kecepatan maksimal.
Setelah dua setengah jam perjalanan di laut yang marah, akhirnya Korta tiba di Sikakap, ibu kota Kecamatan Pagai Utara. "Saat itulah saya mendapat kepastian terjadinya kerusakan parah di dusun-dusun dekat pantai barat," kata Korta.
Tak lama mengecek kondisi pantai barat, Korta dan Ferdinand kembali ke laut. Mereka memutar haluan ke perkampungan paling ujung di Pagai Selatan. Tak ada barang yang dibawa. Selain karena perahu miliknya kecil, Korta juga tidak memiliki apa-apa saat itu. Pikirannya saat itu cuma satu: memastikan daerah mana saja yang terkena tsunami.
Setelah menempuh perjalanan empat jam, Korta sampai di Dusun Surat Aban. Syukurlah, menurut kepala dusun, semua penghuni dusun baik-baik saja.
Hari sudah malam. Cuaca semakin tidak bersahabat, Korta bermalam di Surat Aban.

l l l

Rabu, 27 Oktober
Subuh datang. Korta kembali melanjutkan perjalanan. Dia menyisir perkampungan yang berada di bawah Dusun Surat Aban. Dusun Limosua adalah yang pertama kali didatangi. Selanjutnya� Dusun Lak Kau. Kedua dusun itu aman-aman saja. Tidak ada korban jiwa.
Laggaita kembali melanjutkan perjalanan ke Dusun Maonai. Dari jauh Korta melihat pemandangan yang berbeda. Rumah yang dulu banyak berdiri di pinggir pantai sekarang sudah hilang. Bergegas Korta melabuhkan Laggaita.
Menjejakkan kaki di desa, Korta tercenung. Orang-orang serba diam. Sapaan dan teguran Korta tak berbalas. Beberapa orang berjalan linglung sambil meratap, seolah sedang mencari sesuatu. Mereka tidak berkomunikasi. Hanya 3 dari 42 kepala keluarga yang selamat. Dalam sekejap, di dusun kecil itu 35 orang meninggal dan 8 lainnya hilang.
Korta terus berjalan. Sampai akhirnya dia bertemu Kepala Dusun Maonai, yang kehilangan istri dan dua anaknya. Mereka berpelukan dan bertangisan. Sang kepala dusun sesenggukan. Sulit baginya mengisahkan rincian kejadian dua malam sebelumnya itu.
Bersama warga yang selamat, Korta mencari korban yang meninggal. Saat itu belum ada bantuan makanan yang datang. Menjelang siang, tenaga kesehatan dan anggota Tentara Nasional Indonesia datang dengan helikopter.
Sore harinya, Korta memutuskan kembali ke Sikakap. Banyak yang hendak dia kerjakan.

l l l

Kamis, 28 Oktober 2010
Sikakap. Korta memanggil teman-temannya. Rapat kilat digelar di pos komando Yayasan Citra Mandiri, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang advokasi penduduk asli Mentawai. Rapat memutuskan segera mengirim bantuan ke Maonai dan membentuk tim untuk mendata kondisi dusun-dusun lain.
Berbekal uang pribadi Rp 5 juta, Korta berbelanja berbagai kebutuhan dasar. Minyak tanah, korek api, biskuit, dan mi instan siap dibawa.
Laggaita kembali menuju laut lepas. Ditambah satu sampan kayu bermesin tempel, Korta dan tim mengarahkan haluan�ke Dusun Maonai. Cuaca saat itu tidak bersahabat. Gelombang laut sewaktu-waktu bisa membalikkan perahu jika sang operator tidak waspada.
Benar saja, mendekati Dusun Maonai, gelombang setinggi tujuh meter datang menghadang. Laggaita oleng, perahu pembawa bantuan juga nyaris karam. Setelah mereka berjuang sekuat tenaga, perahu akhirnya bisa berlabuh di pantai. Bantuan makanan pun dibagikan ke semua warga.
Bantuan makanan sudah dibagi. Masih ada satu pekerjaan besar lagi yang dipikirkan Korta, yakni membangun hunian baru bagi pengungsi Maonai. Awalnya, masyarakat Maonai ingin tempat tinggal baru itu jauh dari pinggir pantai. "Sejauh mungkin dari pantai. Mereka masih trauma dengan bencana yang baru berlalu," kata Korta. Ketakutan itu mengalahkan persoalan ketersediaan sumber mata pencaharian dan bahan makanan.
Akhirnya, untuk sementara, mereka sepakat tetap tinggal di tempat itu. Korta dan rekan-rekan membantu menggerakkan warga memperbaiki "tenda kumuh" pengungsian. Korta terus mendorong dialog agar warga dusun mau tinggal tak jauh dari perkampungan lama. "Supaya tidak jauh dari sumber pencaharian," kata Korta. Pada minggu ketiga, penduduk Maonai luluh dan mau mengikuti saran Korta.
Hari-hari terus berlanjut. Korta tancap gas, membantu para pengungsi di sejumlah dusun. Bersama organisasi Lumbung Darma, kumpulan 30 organisasi nonpemerintah yang menaruh perhatian terhadap bencana alam Mentawai, Korta terus bergerak.
Korta memang menyerahkan seluruh waktu untuk penanganan bencana di Mentawai. Sejak berangkat meninggalkan istri dan tiga anaknya sehari setelah tsunami, dia belum sekali pun pulang ke rumah. Baru sebulan kemudian dia pulang menjumpai keluarganya di Tuapejat. "Anak-anak saya mulai protes," katanya.
Bapak tiga anak ini tetap teguh mendampingi Mentawai. Korta� prihatin dengan lambannya respons pemerintah menangani korban tsunami. Kondisi di tenda pengungsian sangat tidak layak. "Semua serba lamban," katanya.
Respons lambat pada saat gempa 2007 kembali terulang. Ketika itu masyarakat kebingungan. "Jangankan untuk makan, menghidupkan api saja susah," katanya.
Yayasan Citra Mandiri dan Lumbung Darma kini bertekad membangun 60 hunian untuk warga Dusun Maonai. Dana pembangunan sepenuhnya berasal Lumbung Darma. "Kami memberdayakan masyarakat untuk mencari kayu sendiri," katanya. "Peralatannya kami sediakan."
Di mata Andrio Nurul, Koordinator Sahabat Walhi Sumatera Barat, sosok Korta adalah komandan yang baik. "Dia bukan hanya memerintah, tapi langsung terjun ke lapangan," kata Andrio, yang ikut bersama Korta di posko Yayasan Citra Mandiri dan Lumbung Darma di Dusun Masabuk, Sikakap.
Bagi Korta, penilaian Andrio dianggapnya berlebihan. "Saya ini tidak istimewa. Seorang aktivis memang seharusnya begitu," katanya merendah. Korta memastikan akan tetap bersama masyarakat Mentawai sampai mereka mendapatkan kembali sebagian kehidupan yang tercabik bencana alam.


Sumber : http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/12/27/LU/mbm.20101227.LU135496.id.html

Share this:

Posting Komentar

 
Back To Top
Distributed By www.surafm.com | Designed By OddThemes