BREAKING NEWS

Minggu, 04 Juli 2010

Sagu,Sebagai Bukti Kemandirian Masyarakat Mentawai

Bagi masyarakat Mentawai khususnya di Pulau Siberut, sagu yang dalam bahasa latin disebut Metroxylon sp merupakan sejenis tanaman Pengolahan sagu di Mentawai masih sangat tradisional. yang memiliki nilai penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan budaya mereka.Salah satunya, sagu yang setelah diolah menjadi tepung merupakan makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari juga pada saat pesta-pesta adat (punen).

Sejak zaman nenek moyang dahulu betapa penting atau bermanfaatnya sagu bagi pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari sehingga tanaman ini juga dijadikan sebagai salah satu harta atau benda untuk alat pembayaran. Seperti pembayar mas kawin (alattoga), denda adat (tulou) dan transaksi pertukaran atau jual beli tradisional.

Tanaman sagu sebagi sumber bahan makanan pokok ini memiliki keunikan tersendiri dari jenis tanaman lain yang biasa dijadikan makanan pokok di kelompok masyarakat lain seperti padi. Keunikannya mulai dari cara penanaman, perawatan, sampai pemanenan dan pengolahannya menjadi bahan makanan.

Sagu biasanya ditanam di tanah berawa dan tumbuhan berumpun ini dapat tumbuh subur di Mentawai meski ditanam secara tradisional tanpa pupuk apalagi irigasi. Hemat biaya hemat pula tenaga, begitu juga dengan perawatannya. Pemilik tanaman hanya perlu sesekali merambah tanaman semak di sekitar rumpun sagu agar tidak mengganggu pertumbuhannya.

Setelah kurun waktu tertentu yang biasanya antara 8 s/d 10 tahun, sagu siap dipanen. Terasa lama memang, tetapi sistem penanaman yang tidak mengenal musim tanam dan bisa dilakukan setiap waktu membuat ketersediaan tanaman untuk diolah menjadi bahan pangan selalu ada kapan saja dibutuhkan.

Pengolahan sagu menjadi bahan pangan juga memiliki keunikan tersendiri. Tidak dikenalnya musim panen membuat sagu dapat diolah kapan saja sesuai kebutuhan. Di beberapa kelompok masyarakat di Pulau Siberut, mengolah sagu biasa dilakukan secara bergotong royong dalam satu uma atau clan. Bisa pula dilakukan di masing-masing rumah tangga atau keluarga inti saja. Yang pasti, semakin banyak tenaga yang terlibat semakin banyak pula jumlah sagu yang dapat diolah dan dihasilkan.

Sagu biasanya diolah dalam jumlah besar untuk dijadikan stok pangan sehari-hari maupun keperluan pesta adat (punen). Pengolahan dengan cara tradisional baik dari peralatan maupun cara menebang, memarut sampai menghasilkan tepung sagu, memang memakan waktu yang relative lama. Namun jika dibandingkan ketersediaan bahan pangan yang dihasilkan, masih sangat rasional untuk tetap menjadikan sagu sebagai bahan makanan pokok. Menghabiskan waktu 1 bulan mengolah sagu bisa menghasilkan persediaan pangan atau bahan makanan pokok untuk 1 tahun.

Ketika bahan pangan pokok tersedia, waktu dan perhatian dapat dialihkan untuk pekerjaan lain seperti berladang atau pemenuhan kebutuhan ekonomi lainnya.

Sayangnya seiring dengan masuknya pengaruh luar, sagu semakin terpinggirkan, sagu seringkali diidentikkan dengan bahan makanan kurang gizi bahkan lambang ketertinggalan dari kelompok masyarakat lainnya yang mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok. Orang luar bahkan sebagian orang Mentawai sendiri seringkali memandang sebelah mata. Padahal sagu merupakan bentuk kemandirian orang Mentawai terhadap kebutuhan pangan mereka. (tarida/puailiggoubat)

Share this:

Posting Komentar

 
Back To Top
Distributed By www.surafm.com | Designed By OddThemes